Pada minggu pagi, saya menemani Ferhat. Teman yang sudah cukup lama saya kenal. Menjelang peringatan tsunami setiap tahun, ia memiliki kebiasaan unik yaitu berkeliling kota untuk mengenang kembali tragedi besar yang pernah melanda Banda Aceh.
Katanya, sebagai penyintas tsunami, ia ingin setiap tahunnya merefleksikan musibah maha dahsyat ini biar tidak lewat begitu saja.
Saya perhatikan, pemandangan puing-puing yang masih berserak selalu menarik perhatiannya, terutama di pinggiran kota yang berdekatan dengan laut. Tempat-tempat ini seolah menjadi saksi bisu dari kejadian yang mengubah segalanya dalam sekejap mata.
Begitu memasuki jalan utama menuju Ulee Lheu. Ingatan saya langsung terlempar ke sepuluh tahun silam, saat hampir seluruh bangunan dan pepohonan di kawasan ini rata dengan tanah. Tidak banyak yang tersisa; hanya lantai rumah yang kokoh dan beberapa ruangan seperti kamar mandi yang masih berdiri meski dalam keadaan yang hancur.
