Ulee Lheu dan Sejuta Kenangan Dibaliknya

Objek Wisata

Pada minggu pagi, saya menemani Ferhat. Teman yang sudah cukup lama saya kenal. Menjelang peringatan tsunami setiap tahun, ia memiliki kebiasaan unik yaitu berkeliling kota untuk mengenang kembali tragedi besar yang pernah melanda Banda Aceh.

Katanya, sebagai penyintas tsunami, ia ingin setiap tahunnya merefleksikan musibah maha dahsyat ini biar tidak lewat begitu saja.

Saya perhatikan, pemandangan puing-puing yang masih berserak selalu menarik perhatiannya, terutama di pinggiran kota yang berdekatan dengan laut. Tempat-tempat ini seolah menjadi saksi bisu dari kejadian yang mengubah segalanya dalam sekejap mata.

Begitu memasuki jalan utama menuju Ulee Lheu. Ingatan saya langsung terlempar ke sepuluh tahun silam, saat hampir seluruh bangunan dan pepohonan di kawasan ini rata dengan tanah. Tidak banyak yang tersisa; hanya lantai rumah yang kokoh dan beberapa ruangan seperti kamar mandi yang masih berdiri meski dalam keadaan yang hancur.

Namun, Ulee Lheue yang saya saksikan hari ini begitu berbeda. Kehidupan perlahan kembali berdenyut di sini. Pertokoan, perumahan, dan taman-taman kota mulai bermunculan, menandakan upaya bangkit dari masa lalu yang kelam. Meski demikian, jika kita teliti, sisa-sisa tsunami masih bisa ditemukan, seperti rumah H. Syafriel Antony yang berada di tepi jalan menuju pelabuhan Ulee Lheue.

Rumah yang luas ini tampaknya dulu adalah sebuah kediaman yang megah. Sisa-sisa pondasi dan ruangan yang masih ada memberikan gambaran betapa kokohnya rumah ini sebelum diterjang gelombang besar.

Rumah ini memiliki dua lantai, namun lantai duanya "hilang" akibat kekuatan tsunami. Yang tersisa hanyalah tangga yang sekarang tampak seperti jembatan menuju ke mana-mana. Di depan rumah, sebuah plang nama berdiri kokoh menghadap jalan, menunjukkan siapa pemilik rumah ini. Di dinding rumah bagian kiri, terdapat prasasti kecil yang mencatat nama tujuh orang yang hilang pada saat tsunami, dari yang tertua berusia 71 tahun hingga yang termuda baru berumur 2 tahun.


Saya tidak bisa menahan diri untuk merenung di depan rumah ini. Siapakah sebenarnya IPTU POL (AMT) Dewa M Adrian yang begitu baik hati mempertahankan rumah ini sebagai situs tsunami? Melihat rumah ini, saya jadi penasaran akan kisah di balik sosok baik hati ini. Saya dengan Ferhat lantas berkeliling di sekitar rumah, mengamati puing-puing yang tersisa; kamar mandi yang hancur, lantai dua yang lenyap, dan tangga yang hanya setengah.

Meski telah diluluhlantakkan oleh Tsunami, bagian yang tersisa dari rumah ini dirawat dengan cukup baik. Taman di sekitarnya tertata rapi, dengan pot-pot bunga besar yang diletakkan sedemikian rupa untuk mempercantik suasana. Bahkan, di depan teras, sebuah tiang bendera baru saja didirikan, seolah menjadi simbol harapan di tengah kenangan yang pilu.

Saya rasa, rumah ini bisa menjadi destinasi menarik bagi para pelancong yang ingin mengenang tragedi tsunami. Banyak orang mungkin akan singgah untuk sekadar berfoto atau mengenang mereka yang telah pergi.

Bagi kamu yang sering melewati Ulee Lheue, tidak ada salahnya untuk mampir dan meresapi kembali jejak sejarah yang tertinggal di sini. Sejenak, biarkan diri kita diingatkan bahwa meski kehidupan terus berjalan, ada cerita dan kenangan yang patut untuk selalu dikenang.

Fasilitas