Peunayong, kawasan pecinan di Banda Aceh, tak hanya sekadar deretan ruko yang padat dan riuh oleh aktivitas ekonomi. Di balik kesibukan yang seolah tak pernah tidur, kawasan ini menyimpan cerita panjang yang terjalin erat dengan sejarah Banda Aceh. Peunayong bukan sekadar tempat, melainkan sebuah pusat perdagangan yang hidup sejak masa Kerajaan Aceh.
Pada satu kesempatan, Laila Abdul Jalil, seorang arkeolog dan ahli sejarah Aceh mengungkapkan, bahwa posisi strategis Banda Aceh yang menghadap Selat Malaka membuat kota ini menjadi persinggahan penting bagi para pedagang dari berbagai belahan dunia, termasuk etnis Tionghoa.
Peunayong dipilih sebagai salah satu titik persinggahan karena kedekatannya dengan Krueng Aceh, sebuah sungai yang membelah Kota Banda Aceh. Dalam pandangan etnis Tionghoa, hidup berdampingan dengan sungai akan membawa keberuntungan.
Kontak dagang antara Tionghoa dan Aceh sudah dimulai sejak abad ke-9. Mereka membawa komoditas seperti keramik, sutra, kertas, dan lain-lain yang kemudian ditukar dengan rempah-rempah dari Aceh.
Namun, perdagangan bukanlah satu-satunya alasan mereka datang ke Aceh. Pada abad ke-5 hingga ke-8, Tiongkok dilanda berbagai pergolakan politik dan bencana alam, yang memaksa sebagian dari mereka meninggalkan tanah kelahirannya.
