Ketika fajar baru saja merekah, dan langit masih diselimuti rona kehitaman, Warung Nasi Gurih Pak Rasyid sudah diserbu oleh para penikmat setianya. Di seberang Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, antrean mulai terlihat, meskipun jalanan masih lengang. Bahkan sebelum matahari sepenuhnya terbit, aroma khas nasi gurih yang dimasak dengan santan sudah tercium dari kejauhan, membuat siapa pun yang melintas tergoda untuk mampir.
Warung sederhana ini memang dikenal tak pernah sepi, terutama setelah waktu salat subuh. Banyak jamaah Masjid Raya yang langsung menuju ke warung ini untuk menikmati sarapan khas Aceh yang melegenda. Nasi gurih Pak Rasyid diracik dengan bahan-bahan lokal seperti beras yang dimasak menggunakan santan, daun jeruk, dan daun salam, menciptakan aroma yang menggugah selera. Tampilan nasi ini sekilas mirip dengan nasi uduk khas Jakarta atau nasi lemak dari Malaysia, namun dengan cita rasa yang berbeda.
Di antara para pelayan yang sibuk hilir-mudik, Hafaz, menantu almarhum Pak Rasyid, terlihat mengatur pesanan. Dialah yang kini meneruskan usaha keluarga bersama istri dan timnya. Menunya beragam, mulai dari ikan goreng sambal merah, dendeng sapi khas Aceh, gulai ayam, paru goreng, hingga aneka lauk lainnya. Harganya pun terjangkau, mulai dari Rp10 ribu hingga Rp20 ribu, membuat siapa pun bisa menikmati sajian istimewa ini tanpa merogoh kocek terlalu dalam.
Satu porsi nasi gurih yang kami pesan datang dengan ikan sambal dan dendeng sapi, disajikan dengan taburan bawang goreng, tauco, serundeng, dan kerupuk. Rasanya? Sungguh menggoda. Setiap suapan menawarkan sensasi gurih yang kaya, bercampur dengan pedas manis sambal yang menyegarkan. Dendeng sapi yang manis dan sedikit pedas menjadi pelengkap sempurna.
