Saat tsunami menggulung pesisir Aceh pada 26 Desember 2004, Ulee Lheue menjadi saksi bisu dari kekuatan alam yang tak terelakkan. Sebuah desa yang dahulu penuh dengan kehidupan berubah menjadi hamparan puing-puing. Lebih dari separuh dari sekitar enam ribu penduduk desa ini menjadi korban. Empat dusun yang dulunya menjadi tempat berteduh bagi ribuan jiwa seolah lenyap ditelan gelombang. Hanya kenangan dan rasa kehilangan yang tertinggal.
Namun, di tengah kehancuran itu, keajaiban terjadi. Masjid Baiturrahim, yang berdiri hanya beberapa puluh meter dari bibir pantai, tetap tegak menantang dahsyatnya gelombang. Meski seluruh bangunan di sekitarnya rata dengan tanah, masjid itu masih berdiri tegak, seakan menjadi simbol harapan di tengah derita. Subhan, Sekretaris Pengurus Masjid dan salah satu dari sedikit warga yang selamat, masih ingat dengan jelas saat dirinya berlari menghindari gulungan ombak yang mendekat dengan cepat.
"Masih banyak yang mencoba menyelamatkan diri ke masjid," katanya dengan suara berat, "tapi hanya sembilan orang yang selamat setelah berhasil mencapai puncaknya."
Setelah tsunami, meskipun mengalami kerusakan, Masjid Baiturrahim tetap kokoh. Hanya sekitar 20 persen bangunannya yang rusak—bagian samping dan belakang—sementara Al-Quran dan kitab-kitab suci berserakan di dalamnya. Ajaibnya, masjid ini dibangun tanpa kerangka besi, tetapi mampu menahan amukan bencana alam yang menghancurkan hampir semua bangunan di sekitarnya.
