Mengenang Jejak Kolonial Belanda di Kompleks Kerkhof Peutjut, Banda Aceh

Gapura beton megah itu berdiri kokoh, seolah menjadi saksi bisu peristiwa-peristiwa yang telah berlalu. Dengan atap segitiga dan bentuknya yang menjorok ke dalam, gapura ini membentuk terowongan yang menuntun pengunjung memasuki dimensi masa lalu. Di puncaknya, lambang bintang dan tulisan berbahasa Belanda, "Aan Onze Kameraden Gevallen Op Det Veld Van Eer", terpampang jelas. Kalimat itu, yang berarti "Untuk Kawan-kawan Kami yang Gugur di Medan Kehormatan", menghadirkan suasana penuh rasa hormat dan duka yang mendalam.

Di sebelah kiri dan kanan gapura, terbentang tembok yang sama gagahnya, dengan pahatan angka-angka dan nama-nama kota di Aceh serta deretan nama-nama manusia yang pernah melintas di kehidupan ini. Nama-nama seperti J. Van Franken, C. Fuchs, S. M. Abrahams, hingga nama-nama Indonesia seperti Wongsosetiko dan Sipin, semuanya terpatri abadi di tembok itu. Setiap nama menyimpan kisah—kisah pertempuran, pengorbanan, dan sejarah yang tertanam di tanah rencong ini.

Gapura tersebut bukan hanya pintu masuk ke sebuah pemakaman, tetapi gerbang menuju salah satu babak penting dalam sejarah Aceh: Kompleks Kerkhof Peutjut. Terletak di Gampong Sukaramai, Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh, tempat ini menjadi saksi dari kisah perjuangan rakyat Aceh melawan kolonialisme Belanda. Nama-nama di dindingnya, terutama para serdadu Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger (KNIL) dan pasukan khusus Korps Marechaussee, adalah bukti dari pertempuran berdarah yang terjadi di bumi Aceh di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.

Pemerintah setempat kini telah menjadikan pemakaman ini sebagai destinasi wisata sejarah, sebuah situs yang menghubungkan kita dengan masa lalu. Bagi yang berkunjung, ini lebih dari sekadar berjalan di antara batu nisan. Ini adalah perjalanan menyusuri jejak perlawanan rakyat Aceh, sebuah peringatan bahwa kemerdekaan dan kebebasan selalu dibayar dengan darah dan air mata.

Menurut Salya Rusdi, juru kunci Kompleks Kerkhof Peutjut, pemakaman ini adalah salah satu dari sedikit peninggalan kolonial Belanda yang masih ada di Aceh. Dengan luas sekitar 3,5 hektar, di sini bersemayam ribuan tentara, perwira, serta keluarga mereka. Salah satunya adalah Mayor Jenderal J.H.R. Kohler, seorang perwira tinggi yang tewas dalam ekspansi pertama Belanda ke Aceh pada tahun 1873. Makam Kohler berdiri megah di tengah jalan utama kompleks, dihiasi ukiran bintang, obor terbalik, dan tali tambang yang melambangkan kekuasaan dan pertempuran.

Namun, yang membuat Kompleks Kerkhof Peutjut semakin unik adalah keberagaman orang yang dimakamkan di sini. Dari tentara bayaran Eropa, Nusantara, hingga sipil, wanita, dan anak-anak dari berbagai latar belakang agama dan budaya. Ada yang beragama Protestan, Katolik, Islam, Hindu, Buddha, hingga Yahudi. Tempat ini seperti miniatur dari dunia kolonial yang mencerminkan keragaman dan kekacauan masa lalu.

Pemakaman ini telah mengalami banyak perubahan. Pada tahun 1976, seorang kolonel Belanda, J.H.J. Brendgen, tergerak untuk memugar makam yang sebelumnya terbengkalai. Rerumputan yang liar pernah menutupi tempat ini, hanya menjadi tempat warga menggembala ternaknya. Namun, berkat inisiatif Brendgen dan yayasan Stichting Peutjut-Fonds yang dibentuknya, perawatan dan pemugaran makam ini dimulai. Meskipun mengalami kerusakan hebat akibat tsunami tahun 2004, dana yang disalurkan yayasan tersebut berhasil memperbaiki sebagian besar nisan yang hancur.

Kini, Kompleks Kerkhof Peutjut menjadi tempat yang ramai dikunjungi oleh para pelajar, mahasiswa, penikmat sejarah, hingga wisatawan mancanegara, terutama dari Belanda. Bagi mereka, tempat ini bukan sekadar objek wisata, tetapi juga laboratorium sejarah, tempat di mana mereka dapat meneliti masa lalu, menelusuri nama-nama leluhur, dan mengenang kisah-kisah yang terlupakan.

Saat Anda melangkah di Kompleks Kerkhof Peutjut, setiap nisan yang Anda lihat membawa Anda lebih dekat dengan sejarah. Di balik setiap nama yang terpatri, tersimpan kisah-kisah tentang perjuangan, kolonialisme, dan kerinduan akan kebebasan. Jika Anda berada di Banda Aceh, cukup ikuti Jalan Iskandar Muda dan biarkan gapura besar di tengah kota ini memandu Anda ke salah satu babak penting dalam sejarah Aceh.