Selama 14 tahun, Khairul Fajri dengan tekun merintis usaha pembuatan kain sarung tradisional Aceh yang kini dikenal dengan merek Ija Kroeng. Berawal dari kecintaannya terhadap budaya lokal, Khairul membangun brand yang kini tidak hanya dikenal di Aceh, tetapi juga telah mendunia. Produk-produk Ija Kroeng telah berhasil dikirim ke berbagai negara Eropa seperti Belgia, Denmark, Belanda, serta negara-negara di Asia Tenggara.
Khairul memilih nama Ija Kroeng karena memiliki kedekatan yang erat dengan kehidupan masyarakat Aceh. "Tidak ada satu orang pun di Aceh yang tidak tahu apa itu Ija Kroeng. Ini bukan sekadar kain sarung, tetapi bagian dari sejarah dan identitas kita," ungkap Khairul.
Berdasarkan catatan sejarah, Ija Kroeng telah ada sejak masa Kerajaan Aceh Darussalam. Sejarawan Rusdi Sufi dalam bukunya “Pakaian Tradisional di Aceh” (1993), menyebutkan bahwa kawasan Lambhuk di Banda Aceh menjadi salah satu pusat produksi kain ini, di mana kain dibuat dengan alat tenun tradisional yang disebut teupeun. Kain sarung khas ini, bersama dengan kain-kain lain seperti selendang, menjadi simbol keunggulan kerajinan tangan Aceh.
