Tsunami dahsyat yang melanda Aceh pada tahun 2004 merupakan salah satu bencana terbesar dalam sejarah modern, terutama bagi masyarakat Aceh. Peristiwa tragis ini menelan banyak korban jiwa dan menghancurkan hampir seluruh wilayah Banda Aceh, meninggalkan luka mendalam yang tak mudah dilupakan.
Bencana tersebut diawali oleh gempa berkekuatan 9 skala Richter yang mengguncang Samudera Hindia. Ini adalah salah satu gempa terkuat yang pernah tercatat dalam sejarah dunia. Tidak lama setelah itu, gelombang tsunami setinggi pohon kelapa menyapu daratan Aceh, meluluhlantakkan segala yang ada di depannya, termasuk kota Banda Aceh yang hancur lebur.
Salah satu saksi bisu dari dahsyatnya tsunami tersebut adalah PLTD Apung, atau yang lebih dikenal sebagai Kapal Apung. Kapal ini sebenarnya adalah sebuah tongkang pembangkit listrik tenaga diesel yang dibangun di Jerman pada tahun 1976. Sejak tahun 1978, kapal ini dioperasikan di Ulee Lheue, Banda Aceh, dengan panjang 63 meter dan berat 2.600 ton, mampu menghasilkan daya hingga 10,5 megawatt.
Namun, pada tanggal 26 Desember 2004, kapal ini terseret gelombang tsunami sejauh kurang lebih 3 km ke daratan, menghantam rumah-rumah penduduk di Desa Punge Blang Cut. Meskipun mengalami kerusakan parah, kapal ini berhasil diselamatkan dan direnovasi pada tahun 2009, kemudian diubah menjadi museum dan objek wisata edukasi. Kini, PLTD Apung berdiri sebagai monumen yang mengenang tragedi tsunami Aceh sekaligus sebagai pengingat pentingnya mitigasi dan kesiapsiagaan terhadap bencana, khususnya gempa dan tsunami.
Saat memasuki area PLTD Apung, pengunjung pertama-tama dapat mengunjungi monumen yang mencatat nama-nama korban tsunami di Desa Punge Blang Cut. Monumen ini berbentuk seperti gelombang tsunami dan mengajak pengunjung untuk sejenak mengirimkan doa bagi para korban. Setelah itu, pengunjung bisa mengeksplorasi kapal Apung yang sekarang difungsikan sebagai museum. Di dalam museum ini, terdapat berbagai koleksi yang berkaitan dengan sejarah kapal, peristiwa tsunami, serta upaya pemulihan pasca-bencana.
Di museum ini, pengunjung dapat menyaksikan foto-foto dan video dokumentasi yang menggambarkan kedahsyatan tsunami, serta belajar bagaimana masyarakat Aceh bangkit dari tragedi tersebut. Video-video edukatif mengenai gempa dan tsunami juga ditampilkan di sini, memberikan wawasan yang lebih mendalam tentang bencana alam.
PLTD Apung tidak hanya menjadi tempat bersejarah, tetapi juga pusat edukasi bagi generasi muda. Di sini, pengunjung dapat mengikuti berbagai program edukasi, seperti simulasi tsunami, workshop mitigasi bencana, dan pameran budaya Aceh. Di atas kapal, pengunjung dapat menikmati pemandangan indah ke arah laut dan seluruh kota Banda Aceh, yang sering dijadikan spot favorit untuk berfoto.
Museum PLTD Apung berlokasi di Desa Punge Blang Cut, Banda Aceh, dan dapat dikunjungi setiap hari dengan jam operasional sebagai berikut:
- Senin – Kamis : 08.00 – 18.00 WIB
- Jumat : 14.00 – 18.00 WIB
- Sabtu – Minggu : 08.00 – 18.00 WIB
Namun, museum ini akan ditutup sementara saat pelaksanaan ibadah salat zuhur dan asar, memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk beribadah terlebih dahulu di Masjid Subulussalam yang terletak tepat di depan objek wisata ini. Tiket masuk ke museum ini bersifat sukarela, dengan kotak amal yang tersedia di pintu masuk. Seluruh dana yang terkumpul akan diserahkan kepada pengelola masjid setempat.
Keberadaan Monumen PLTD Apung juga berdampak positif bagi masyarakat sekitar, yang memanfaatkan kehadiran wisatawan dengan membuka toko-toko kecil yang menjual oleh-oleh khas Aceh atau menjadi pemandu wisata. PLTD Apung kini menjadi simbol kekuatan dan ketahanan masyarakat Aceh dalam menghadapi tragedi, sekaligus pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan terhadap bencana alam.
