Pagi itu, langit Banda Aceh berwarna biru muda, semburat awan tipis bergerak tenang. Hujan semalam membuat aroma tanah menguar.
Di sudut kota, di kawasan Tibang terdapat sebuah tempat yang begitu istimewa: Hutan Kota Banda Aceh namanya.
Begitu melangkahkan kaki masuk ke sini, suasana kota perlahan-lahan memudar. Raungan kendaraan berganti dengan bisikan angin yang menyelinap di antara dedaunan. Jalan setapak yang di desain sedemikian rupa seolah mengajak kita untuk menelusuri lebih dalam
Pohon-pohon besar dengan batang kokoh berdiri seolah penjaga setia tempat ini, menjulurkan kanopi hijau yang melindungi siapa saja di bawahnya dari sengatan matahari. Cahaya pagi menari-nari melalui celah-celah dedaunan, menciptakan pola-pola yang bergerak di atas tanah.
Udara di sini terasa lebih ringan. Setiap tarikan napas menghadirkan kesejukan yang sulit ditemukan di tempat lain. Di kejauhan, suara burung bersahut-sahutan, menciptakan irama alam yang harmonis. Seorang pria tua tampak berjalan perlahan sambil membawa buku lusuh di tangan. Sesekali ia berhenti, mengangkat wajah, dan menatap puncak-puncak pohon yang melambai pelan. Ada ketenangan di wajahnya, seolah tempat ini menyimpan cerita yang hanya bisa ia pahami.
Tidak jauh dari pintu masuk, anak-anak tengah bermain. Ada yang naik perosotan, sepedaan, bermain bola dan semuanya tampak ceria. Di salah satu sudut, terdapat sebuah jembatan kayu menanjak. Lebarnya lebih kurang satu meter.
Hutan Kota Banda Aceh ini bukan hanya tempat rekreasi; ia adalah ruang hidup bagi ratusan flora dan fauna yang tumbuh subur di dalamnya. Pepohonan khas seperti mahoni dan ketapang berdiri berdampingan dengan tanaman endemik yang jarang dijumpai di tempat lain. Di dekat pintu masuk, sebuah papan informasi memperkenalkan pengunjung pada keanekaragaman hayati yang menghuni hutan ini. Tidak sedikit pelajar yang datang ke sini untuk belajar langsung dari alam. Dengan buku catatan di tangan, mereka mencatat nama-nama pohon, serangga, dan burung yang mereka temui.
Hutan ini juga menyimpan makna yang lebih dalam bagi warga Banda Aceh. Bagi banyak orang, Tibang adalah simbol kebangkitan setelah bencana besar tsunami yang melanda hampir dua dekade lalu. Dulu, kawasan ini adalah lahan kosong yang tak terurus. Namun, dengan semangat gotong royong, tempat ini diubah menjadi ruang hijau yang kini menjadi paru-paru kota sekaligus tempat berkumpul bagi warga. Setiap pohon yang ditanam adalah doa, setiap langkah di hutan ini adalah harapan.
Saat senja menjelang, suasana hutan berubah. Cahaya keemasan menyelimuti pepohonan, menciptakan siluet indah yang tampak magis. Burung-burung mulai kembali ke sarangnya, dan suara alam perlahan mereda. Seorang pemuda tampak duduk di bangku kayu, menggenggam kamera dan memotret langit yang berwarna jingga. "Ini bukan sekadar hutan," katanya perlahan, "ini adalah napas kota."
Hutan Kota Tibang mengajarkan satu hal sederhana namun bermakna: bahwa hubungan antara manusia dan alam haruslah penuh dengan penghargaan. Tempat ini bukan hanya destinasi, melainkan pengingat akan pentingnya menjaga keseimbangan dengan lingkungan. Jika Anda ingin menemukan ketenangan di tengah kehidupan kota, Hutan Kota Banda Aceh adalah jawabannya. Di sini, setiap langkah adalah cerita, setiap sudut adalah pelajaran, dan setiap tarikan napas adalah rasa syukur. Kapan Anda akan menyambangi oase hijau ini?
