Di sebuah rumah sederhana di Banda Aceh, aroma harum rempah menguar dari dapur keluarga kecil Ratu Nur Anissa dan Anshar Zulhelmi. Di tengah hiruk pikuk kehidupan kota, mereka sedang memasak sesuatu yang istimewa—sebuah tradisi yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Aceh selama berabad-abad: nasi minyak. Namun kali ini, bukan sekadar nasi minyak biasa. Mereka sedang menciptakan sebuah inovasi yang akan memudahkan banyak orang menikmati kelezatan masakan khas ini.
Berawal dari dapur kecil itu, pada tahun 2017, lahirlah Bitata Food , sebuah usaha kuliner yang mengubah resep warisan menjadi lebih praktis, modern, namun tetap mempertahankan cita rasa autentik. “Kami ingin membawa nasi minyak khas Aceh ke lebih banyak meja makan, tanpa perlu repot. Dengan bumbu siap pakai, siapa saja bisa membuatnya dengan mudah,” cerita Ratu, mengenang awal mula perjalanan mereka.
Dulu, dengan modal awal Rp1,5 juta, Ratu dan Anshar memulai usaha ini sambil merawat dua anak mereka, Abdullah dan Abdurrahman. Mereka membuat bumbu nasi minyak dari bahan-bahan asli yang didapat langsung dari petani lokal. Setiap rempah diracik dengan hati-hati, mencerminkan kehangatan yang mereka harapkan dapat sampai ke setiap rumah yang menyajikan produk Bitata Food.
Nasi minyak bukanlah satu-satunya produk Bitata Food. Dalam semangat menjaga tradisi kuliner Aceh, Ratu dan Anshar terus berinovasi. Mereka menghadirkan berbagai camilan khas Aceh yang mungkin jarang ditemukan di luar provinsi ini. Ada jejuku , kue manis khas Aceh yang renyah, dan keripik kentang serta keripik tempe yang ringan namun memanjakan lidah.
