Di tengah ramainya kawasan Peunayong, tepat di depan Hotel Ayani, terdapat sebuah toko kecil estetik—Outlet Cilet Coklat milik Didi Supardi. Di sini, berbagai batang coklat tersusun rapi, dengan bungkus yang didesain apik, mencerminkan kekayaan budaya Aceh. Setiap kemasan menyimpan cerita sendiri, mulai dari tarian tradisional hingga motif lokal yang memperkuat identitas Cilet Coklat sebagai produk asli tanah rencong.
Bagi warga Banda Aceh dan sekitarnya, produk Cilet Coklat bukanlah hal yang sulit ditemukan. Selain tersedia di outletnya sendiri, cilet coklat juga tersebar di beberapa toko souvenir oleh-oleh. Namun, yang membuat Cilet Coklat istimewa bukan hanya rasa coklatnya yang lezat, melainkan juga visi besar Didi untuk memperkenalkan Aceh melalui kuliner.
Cilet Coklat bukan sekadar coklat biasa. Dengan lebih dari 30 varian, Didi terus berinovasi menciptakan berbagai rasa yang unik dan memadukan budaya Aceh ke dalam setiap produknya. "Untuk coklat batangan, kami sengaja memadukan seni tradisional Aceh seperti tarian sebagai elemen utama desainnya. Ini adalah cara kami untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Cilet Coklat berasal dari Aceh," jelas Didi.
Saat ini, Cilet Coklat fokus pada pemasaran digital, setelah sebelumnya memiliki tiga outlet fisik. Didi telah mengalihkan perhatiannya pada penjualan online yang kini menjadi tumpuan bisnisnya. Dengan memanfaatkan platform seperti Shopee, Instagram, TikTok, dan WhatsApp, Cilet Coklat telah memperluas jangkauannya, tidak hanya di Aceh tapi juga secara nasional dan internasional. "Dulu kami punya beberapa outlet, tapi sekarang kami fokus pada online. Ini memungkinkan kami untuk bekerja sama dengan lebih banyak toko oleh-oleh dan memperluas distribusi," katanya.
